Sunday, 20 August 2017

Happiness Lies In You

Jumat, 18 Agustus 2017

Di suatu sore yang menyenja ...

"Okay, magic words to say?"

"Thank you, Miss Frida!"

"You're welcome." 

Anak-anak kelas 2 dan 3 SD itu berebut menyalami dan mencium tanganku. Beberapa di antaranya lari melesat menghampiri orang tua masing-masing yang menjemput mereka. Beberapa juga masih sempat berteriak, "See you tomorrow, Miss Frida!" dengan penuh semangat.



Aku membalas sapaan pamit mereka dengan tetap mengulas senyum terbaikku. Ah, anak-anak itu sudah beribu-ribu kali menghiasi soreku dengan canda-tawa dan bermacam keceriaan sekaligus kegaduhan mereka. Yet, I enjoy it a lot! Perlahan namun pasti, mereka telah menjadi bagian kisahku.

Aku menata meja dan kursi yang lumayan berantakan sepeninggal mereka. Ketika aku baru selangkah menyapu lantai kelas ...

"Miss, aku belum dijemput," suara Rama mengagetkanku.

"Tunggu aja di teras, ya," sahutku lalu melanjutkan menyapu lantai hingga tuntas.

Tak lama, kulihat Rama menghambur keluar pagar menuju halaman depan. Dan sedetik kemudian kudengar teriakannya. Rama kembali masuk pagar dan berteriak-berteriak yang aku tak jelas mendengarnya sehingga dia mendekat.

"Miss Frida, ada pelangi! Miss, ada pelangi, Miss!"

"What?? Rainbow??" tanyaku.

"Iya, Miss. Rainbow. Pelangi di situ, Miss."

"Masa ada pelangi? Kan nggak habis hujan?"

Karena aku tahu anak-anak tak pernah berbohong (seaneh dan seabsurd apapun celoteh mereka), bergegas aku keluar mengikuti Rama sambil menggendong Danisha. Dan tepat di tepi jalan raya, kami memandang ...



P E L A N G I!!!

Semburat spektrum warnanya yang samar namun cukup jelas dilihat mata telanjang. Indah. What a surprise! It's the rainbow without the rain. Danisha pun terkagum-kagum melihat pelangi untuk pertama kalinya.

"Miss ngapain, Miss? Mau difoto ya, Miss?" tanya Rama

I was smiling at his curiosity.

"Coba aja sih. Moga-moga masih terlihat di foto," timpalku.

Pelangi semakin memudar di langit lazuardi.

"Yuk, masuk. Kita tunggu ayahmu di teras aja," ajakku. Kutengok WA chat dengan ibunya Rama belum terbaca.

"Aduh, ini udah mau malam nih. Kok aku belum dijemput sih?" Rama mulai panik.

Aku tahu, anak ini ingin segera pulang.

"Ayo naik. Miss Frida antar kamu pulang," titahku akhirnya mengeluarkan motor dari garasi setelah menyerahkan Danisha ke ayahnya.

Sambil jingkrak-jingkrak kegirangan Rama berseru, "Lho, Miss Frida antar aku pulang? Memangnya Miss tahu rumahku?"

"Ya, tahu lah. Dekat toko Aice, 'kan?"

"Iya. Wah, Miss Frida antarin aku pulang nih?"

He sounded either excited or thrilled. Gosh, this boy's so amusing. :-D

"Iya. Buruan naik. Udah mau maghrib nih."

Dan sepanjang jalan, anak ini berkata," Wah, aku diantar Miss Frida. Miss Frida antar aku pulang." berulang-ulang.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehnya. Diantar pulang naik motor saja Rama girang bukan kepalang. Gimana kalau diantar naik helikopter, coba? Hahaha ... Membuatnya gembira karena diantar pulang ternyata mengirimkan kebahagiaan bagiku. Bahagia itu memang sangat sederhana.

Setelah belok sekali ke sebuah gang kecil ...

"Itu toko Aice, 'kan? tunjukku ke depan.

"Iya, Miss. Rumahku di sampingnya persis, Miss."

Rumah besar di samping toko Aice berpagar cukup tinggi dengan halaman yang lumayan lapang dengan beberapa tanaman hijau di sekelilingnya. Sebuah mobil van terparkir di garasi depan. Pintu pagarnya terbuka separuh.

"Turun sini, ya. Di rumah ada orang, 'kan?"

"Iya. Ada, Miss."

"Oke, Miss Frida langsung pulang, ya. Udah maghrib nih."

"Iya, Miss. Makasih."

"Sama-sama."

Kupacu motorku ulang. Masih terlintas gegap girangnya Rama karena kuantar pulang.

He made my day. I was so thankful for that one fine afternoon since it gave me a wonderful happiness. Happiness lies on simple things. Happiness lies in you.

Keep teaching, keep learning, keep sharing.


Eureka,

Miss Frida




  

Monday, 17 July 2017

Ajari Aku Membaca Ya, Ma!




Siang masih terik ketika Nissan Xtrail hitam itu memutuskan berbelok ke sebuah mal. Setelah mendapatkan lahan parkir dengan mudah, satu persatu penumpangnya keluar. Sebuah keluarga kecil dengan ayah ibu dan ketiga anak mereka. Anak pertama seorang perempuan mengenakan seragam SMP. Anak kedua seorang bocah lelaki berusia sekitar 12 tahun. Terakhir si bungsu perempuan berusia sekitar 9 tahun.

Beriringan mereka menuju sebuah restoran siap saji dan bersenang-senang di sana. Hingga tiba-tiba ...

"Ma, habis ini aku mau beli buku!" seru Si Bungsu.

"Aku juga, Ma. Aku juga mau buku. Kan Senin besok udah mulai sekolah?" sambut Si Tengah.

Mama mereka hanya mengangguk lalu melanjutkan makan.

"Kamu juga perlu buku?" sang ayah menawari Si Sulung. "Senin besok kamu juga sudah mulai sekolah, 'kan? Hari ini tadi kan cuma masa orientasi," imbuhnya.

Yang ditawari hanya menggeleng tanpa minat. Kedua tangannya masih sibuk menjejalkan setumpuk mie goreng ke mulutnya. Porsi kedua. Sang ayah masih menunggu jawabannya.

"Enggak perlu, Pa. Bukuku udah banyak. Buku pelajaran juga semua dari sekolah," jawab Si Sulung setelah berhasil mengosongkan mulutnya sekaligus mengosongkan piring di hadapannya.

"Ok, kita ke toko buku sekarang."

****

Si Bungsu masih membuka-buka buku tebal di pangkuannya, sebuah kumpulan kisah dongeng tentang para princess. Beberapa tokoh dongeng itu dikenalnya lewat film animasi namun ia tak pernah tahu kisah dongeng itu versi buku.

Sepertinya buku ini seru kalau Mama mau menemaniku membacanya, gumamnya dalam hati. Ia segera bangkit dari ubin dan ternyata ...

"Oh, kamu di sini rupanya. Ayo, Papa sudah menunggu di kasir," tegur Mama.

"Mama, aku mau ... "

"Taruh buku tebal itu kembali ke raknya. Ayo, cepat,"

"Tapi, Ma ... " Si Bungsu tiba-tiba kehilangan senyumnya.

"Apa lagi?" suara Mama mulai tak sabar. Diraihnya buku tebal itu dan secepat kilat mencari label harga. Kepalanya menggeleng pelan melihat deretan lima digit yang tertera di balik buku itu. Sambil mengernyit ia berseru dalam hati, ini sih seharga perawatan facial-ku di salon langganan. Cicilan ponsel kerenku juga kurang segini. Ah, tidak ...

"Kamu sudah nonton film princess ini, 'kan?" tanyanya kemudian sambil menunjuk salah satu tokoh princess. Perasaannya sudah tak sabar.

"Iya, sih. Tapi aku mau baca buku ini sama Mama. Temani aku baca ya, Ma. Biar aku suka baca. Lagian aku belum tahu kisah princess yang itu," tunjuk Si Bungsu.

"Udahlah, Mama enggak ada waktu temani kamu baca. Kamu juga paling baca sebentar lalu bukunya ditinggal sembarangan. Kamu pikir ini harganya murah? Udah, yang princess itu entar beli aja dvd-nya. Kamu tinggal nonton. Sama aja kok ceritanya," titah Mama ketus. Lalu ia meletakkan kembali buku itu ke raknya.

Si Bungsu langsung cemberut.

"Kamu cuma boleh beli buku yang di rak depan itu. Sana pergi, pilih buku yang paling lucu yang kamu suka," perintah Mama berikutnya.

Si Bungsu berjalan dengan lesu menuju rak buku di dekat pintu masuk. Kesedihannya berangsur pudar ketika dia melihat buku-buku dengan cover princess idolanya. Segera dimasukkannya buku-buku itu ke dalam shopping bag hitam.

****

Kakiku sudah mulai terasa pegal. Ya ampun, muter-muter di toko buku selama sejam aja udah berasa banget pegalnya. Aku meregangkan badan sebentar. Sebenarnya berasa pegal karena sambil ngawasin balita, sih. Duh, Danisha kalau sudah asyik lari-lari di toko buku kan lumayan juga ngejarnya.

Aku memeriksa kembali beberapa buku di tanganku. Sedari tadi aku tak menemukan shopping bag di sekitar rak buku manapun. Kalaupun shopping bag dibatasi untuk dipajang, setidaknya pramuniaganya sigap menghampiri customer yang sudah kerepotan menenteng buku-buku lalu menawarkan shopping bag lah. Di cabang lain pramuniaganya seperti itu kok.

"Mom, can I buy this?" tanya Salsa yang masih asyik duduk di ubin sambil menunjukkan sebuah buku kepadaku.

"What is that?" aku balik bertanya. Ini ciri khas penduduk Venus yang kalau ditanya malah tanya balik. Well, that's me. Sometimes.

"It's a comic."

"Whoa. Seriously? Do you still want to read comics? I thought you like novels better."

"But I want this comic. It's cool. Seru deh, Bunda. Ini tentang psikologi."

"Emang kamu udah baca review-nya? Kok tahu kalau seru?"

"Lah, dari tadi kan aku baca. Nih, yang udah terbuka segelnya."

"Ok. Of course, you can buy it. Please, get a shopping bag."

****

Setelah mendapatkan Ziggy, aku segera menuju ke kasir. Entahlah, setiap kali berhasil ke toko buku, aku merasa wajib membawa pulang salah satu novel Ziggy. Kali ini aku memperoleh Jakarta Sebelum Pagi, bukan novel terbarunya sih tapi kan aku belum punya sebelumnya.

"Belle, please keep an eye on your sister."

Salsa mengangguk, "Ok, Mom."

Di hadapanku, beberapa orang berdiri mengular di depan meja kasir. Kuperhatikan mereka sekilas. Sepasang suami-istri dengan postur tubuh yang cukup tinggi dengan perawakan sedang (tidak gemuk dan tidak kurus) berdiri tepat di depanku. Sang suami merangkul istrinya yang tengah asyik dengan gadgetnya. Di barisan paling depan ada dua anak, laki-laki dan perempuan, masing-masing menenteng shopping bag hitam dan melongok-longok ke meja kasir dengan tak sabar.

Anak laki-laki itu berbadan tinggi dan besar yang mungkin berumur 12 tahun. Ia tampak lebih besar dibanding anak-anak seusianya. Wajahnya masih lugu tapi agak kesal. Ia menghampiri dan berbicara dengan seorang anak perempuan berseragam SMP. Tapi yang diajak bicara malah asyik mengamati pajangan assesoris di sisi kanan meja kasir. Postur tubuhnya lebih besar dibanding anak laki-laki itu. Dan anak SMP itu tidak menenteng tas apapun.

Anak perempuan satunya lagi, paling kecil di antara ketiganya, masih menenteng shopping bag dan berjinjit-jinjit di meja kasir lalu berseru-seru kepada sepasang suami-istri di depanku. Anak perempuan itu pun memiliki postur tubuh yang tak jauh berbeda dibanding kedua kakaknya. Gemuk dan besar.

Aku yang masih asyik menikmati pemandangan keluarga "besar" di depan mata ini tiba-tiba tersentak. Kedua anak ini membaca buku? batinku. Rasanya sulit dipercaya. Meskipun aku berusaha membuang jauh-jauh prasangka tentang anak-anak ini, mau tak mau nalar dan naluriku tergelitik untuk menganalisis "fenomena" ini.

Beberapa jenis karakter anak yang kutemui sepanjang perjalananku mengajar selama ini? Mungkin rasanya tak terhitung. Saking seringnya bercengkrama dengan anak-anak, aku bisa mengenali karakter dan hobi anak dari penampilannya termasuk postur tubuhnya. Murid-muridku yang suka membaca adalah anak-anak lincah dengan TB dan BB seimbang. Ada juga sih yang gendut chubby tapi dia lincah dan cepat fasih membaca. Gendut lincah lho, ya. Bukan gendut mager.

Tapi sekali lagi penilaian dari segi fisik ini memang tak serta merta akurat. Sebenarnya sorot mata juga berperan. Sorot mata yang tajam dan percaya diri adalah ciri khas anak yang suka membaca. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku dengan murid-murid. Ada seorang murid yang berbadan kurus dan sinar mata yang lemah dan ternyata ia mengalami kesulitan fokus membaca lantaran kecanduan main games.

Kembali aku menatap kedua anak berbadan besar dengan shopping bag hitam di masing-masing tangannya. Jangan berprasangka buruk, bisik malaikat di sisi kananku. Siapa tahu memang anak-anak itu punya hobi membaca sejak kecil? Siapa tahu juga kedua orang tuanya menerapkan tips di artikel Ayo, Tumbuhkan Minat Baca Pada Anak? (Meskipun kemungkinannya kecil, sih.) Tapi ya ... siapa tahu, 'kan?

Don't judge a book by its cover!

Meskipun postur tubuh mereka adalah tipikal anak-anak yang doyan makan enak, ngemil berat sambil main games atau nonton teve berjam-jam, betah sepanjang hari berada di kamar dengan gadget andalan di tangan, suka meminta ART-nya membawakan tas sekolah mereka yang super berat, mager alias males gerak boro-boro olahraga. Meskipun-meskipun-meskipun ... tapi yaa siapa tahu 'kan kalau mereka kutu buku sampai nenteng tas masing-masing begitu? Jadi masing-masing anak punya koleksi buku masing-masing yang tak bisa diganggu-gugat.

Tanpa sadar aku menggelengkan kepala. Ckckck ... Hebat sekali orang tua mereka sampai bisa membuat anak-anaknya punya reading habit seperti itu.

Sejurus kemudian seorang kasir menuang isi tas kedua anak itu ke meja kasir.

BRUK!!!

Terlihat olehku ada empat pack ...
>
>
>
>
>
>
>

BUKU TULIS!


Tuh, 'kan?!


Eureka,


Miss Frida






   











    
    

Tuesday, 20 June 2017

Lima Aktivitas Menarik Dengan Menggunakan Flashcards

Flashcards menjadi salah satu media yang penting bagi anak-anak untuk belajar Bahasa Inggris. Flashcards membantu anak-anak memahami pelajaran tersebut dengan lebih baik. Belajar dengan menggunakan flashcards dapat menciptakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Tentu saja hal ini tergantung dari cara penyampaian kita kepada mereka. Butuh waktu memang untuk menemukan dan mengaplikasikan cara yang menarik tersebut.

Persiapan
Siapkan satu set flashcards dengan jenis kata yang sama. Misal,  flashcards tentang alat tulis-menulis (kata benda), flashcards tentang kata kerja, flashcards tentang busana yang kita kenakan, flashcards tentang tempat wisata yang terkenal di dunia dan lain-lain. Anda dapat mengunduh tautan ini untuk mendapatkan flashcards sesuai kebutuhan.
Ayo kita mulai gunakan flashcards untuk aktivitas berikut ini:

1.      Vocabulary building
·     Tunjukkan flashcards satu demi satu kepada anak-anak. Anda bisa melakukan tanya-jawab tentang gambar yang ada di flashcards tersebut. Anda juga bisa melakukan show and tell tentang gambar-gambar di flashcards, terutama jika Anda menghadapi anak-anak yang tak aktif bicara. Gunakan kartu dengan dua sisi. Sisi pertama adalah gambar sedangkan sisi kedua adalah nama dari gambar tersebut. Kartu seperti ini membantu anak untuk fokus dan mengingat kosakata yang dibicarakan lebih baik. Jadi setelah membahas gambar, Anda juga membahas tentang kosakatanya. Ulangi aktivitas ini sekali lagi.
·     Saatnya untuk tebak kata. Tunjukkan satu gambar dan tanyakan, “What is this picture? Gambar apa ini?” Beri petunjuk bila anak-anak tak dapat mengingatnya. Contoh, “This picture begins with the letter P. Gambar ini diawali dengan huruf P.” Selalu informasikan nama dari gambar tersebut meskipun mereka telah mengetahuinya, apalagi jika mereka belum mengetahuinya. Dengan memberitahukan mereka nama dari benda yang ada di flashcards tersebut maka Anda melakukan penyeragaman informasi. Anak-anak akan menyebut gambar tersebut dengan nama yang sama. Ucapkan kata tersebut dan minta mereka untuk mengulanginya. Dengan cara ini diharapkan mereka dapat mengingat kosakata tersebut dengan lebih baik.

2.     Spelling bee
·   Tunjukkan gambar kepada anak-anak. Minta mereka untuk mengeja dan membaca kata dari gambar tersebut. Berikut ini contohnya:
            Anda              : What is this picture? Gambar apa ini?
            Anak 1           : Kotak pensil. Hmmm, pencil case.
Anda            : Very good! Please spell and read the word. Coba eja dan baca kata tersebut.
Anak 1           : P-E-N-C-I-L—C-A-S-E … pencil case.
Anda              : Excellent!

Note: Bagi sebagian besar pelajar usia kanak-kanak dari tanah air, mereka cenderung bingung membedakan ejaan huruf “a”, “e” dan “i” dalam Bahasa Inggris. Bahkan mereka juga terkadang bingung dengan huruf “r” yang bunyinya hampir mirip dengan huruf “a” dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu melatih ejaan huruf vokal kepada mereka secara berulang-ulang.

3.     Question/Answer
·   Anda dapat melakukan diskusi dan memberi pertanyaan kepada anak-anak tentang gambar yang ada di flashcards. Anda dapat memberikan pengetahuan tentang sejarah cokelat, misalnya, jika Anda kebetulan menggunakan gambar cokelat di sesi ini. Cukup beri informasi singkat saja. Anda dapat juga menanyakan fungsi suatu benda. Berikut contohnya:
            Anda              : What is this picture? Gambar apa ini?
            Anak 1           : Singa. Oh, lion!
            Anda              : Good. What does the lion eat? Singa suka makan apa?
            Anak 2           : Ayam. Chicken.
Anda           : Correct. The lion eats meat. Singa itu suka makan daging. Chicken is also the meat. Ayam juga termasuk daging. (giving knowledge)
Anak 1           : Kelinci. Rabbit! Rabbit! Rabbit juga daging, ‘kan?
Anda              : Yes, rabbit is also the meat.
Anak 2           : Wah, kasihan rabbit.
****************************
Anda              : What is this picture? Gambar apa ini?
Anak 1           : Crayon.
Anda           : Good. What is the crayon for? Krayon itu untuk apa? (asking the function)
Anak 2           : Untuk menggambar. Drawing! Drawing!
Anda      : Wonderful. Crayon is for colouring, too. Krayon juga untuk mewarnai.  



4.     Writing sentences
·  Tunjukkan sebuah gambar kepada anak-anak. Minta mereka untuk menulis kalimat tentang gambar tersebut. Anda boleh memberikan gambar yang berbeda bagi tiap anak. Tapi Anda juga boleh memberikan gambar yang sama. Asalkan nantinya mereka menuliskan kalimat yang berbeda tentang gambar tersebut.
·      Minta mereka untuk setidaknya menulis 5 kata dalam sebuah kalimat. Pastikan Anda telah memberi contoh kalimat yang baik dan benar sebelumnya. Akan tetapi untuk pelajar yang masih sangat dasar/pemula, mereka boleh menuliskan kalimat yang sederhana, seperti: “I have apples.” Perhatikan bahwa mereka TIDAK menulis kalimat “I have an apples.” atau “I have a apple.”
·      Selalu beri semangat dan motivasi kepada anak-anak untuk menulis. Setidaknya mereka harus mau mencobanya.
·   Cermati kemampuan menulis mereka. Jika mereka masih terlihat bengong dan bingung, itulah saatnya bagi Anda untuk memberikan contoh kalimat dan bagaimana cara membuat kalimat kepada mereka.

Berikut contoh simulasinya:

Anda             : What is this picture? Gambar apa ini?
Anak 1          : Cat.
Anda            : Good. Now I’m making a sentence by using the word “cat”. Sekarang perhatikan Miss Frida akan membuat kalimat dengan kata “cat”. “I SEE A CAT ON THE TREE.” (write it on the board)
Anak 2         : I see a cat on the tree.
Anda           : Right. How many words on my sentence? Ada berapa kata di kalimat ini? Let’s count together. One-two-three-four-five-six-seven. There are seven words. Ada 7 kata, ya.
Anak 1 & 2  : Yes.
Anda           : Now you go on with another card. Make a sentence, please. Nah, sekarang giliran kamu buat kalimat kalimat dengan gambar ini, ya. Give me five words. Buat kalimat dengan 5 kata. Do you understand?
Anak 1 & 2  : Yes.  
Anda            : Good. So, this is a picture of … (show a picture)
Anak 1          : Zebra.
Anda         : Awesome. Make a sentence with the word “zebra”. Ayo buat kalimat dengan kata “zebra”.
Anak 2         : I SEE A ZEBRA ON THE TREE. (write on the board)

Some things might go like this. J

Jika hal di atas terjadi, segera beri koreksi. Meskipun kalimat di atas benar secara grammar dan ejaannya juga benar, jelaskan kepada anak-anak bahwa kita tidak pernah melihat zebra biasa bertengger di pohon. Zebra hidup bebas di sabana. Lalu tuliskan kalimat yang lebih tepat:
“A ZEBRA IS STANDING UNDER THE TREE.”



5.     Making chained-sentences
·  Tunjukkan sebuah gambar di flashcard. Ajarkan kepada anak-anak bagaimana memainkan game ini. Anda boleh ikut serta supaya lebih meriah. Ini adalah chained-sentence game. Begini cara mainnya:
-          Anak 1: mulai membuat kalimat dengan nama gambar di flashcard.
-          Anak 2: melanjutkan kalimat dengan kata terakhir di kalimat sebelumnya. Menyisipkan kata dari flashcard berikutnya di kalimat tersebut.
-          Anak 3: melakukan hal tersebut di atas dengan flashcard selanjutnya.
-          Anda: tunjukkan flashcard berikutnya dan ikuti permainan.

Berikut contoh simulasinya:

 You           : (show the first flashcard of “glasses” to the first child) Make a sentence with this picture! Buat kalimat dengan gambar ini.
              Child 1           : My mum wears glasses everyday.
You                 : Good job! (show the second flashcard of “pencil” to the next child) Continue the sentence. Start with the last word before and insert this new word. Lanjutkan kalimat. Awali dengan kata terakhir dari temanmu tadi. Dan sisipkan kata dari gambar ini.
Child 2           : Everyday I bring a pencil to school.
You                 : Awesome! (show the third flashcard of “book” to the next child) Ok, continue, please.
Child 3           : School has so many books to read.
You                 : Wonderful! Ok, this is my turn. (show the next flashcard of “train”) Read a book on the train,” said my mum.

Dan seterusnya. Dan selanjutnya.

Bisa jadi kegiatan ini tidak begitu lancar di permulaannya. Terutama bagi anak-anak yang belum terbiasa membuat kalimat dalam Bahasa Inggris. Oleh sebab itu, latihan rutin sangatlah diperlukan demi kelancaran.

Ingatlah untuk selalu membangun suasana fun learning saat belajar bersama anak-anak. Suasana yang kondusif sangat berpengaruh terhadap daya serap mereka. Semoga tips di atas bermanfaat, ya. J

Keep learning, keep teaching and keep sharing.


Eureka,


Miss Frida 


flashcard reference: learnenglishkids.britishcouncil.org 

Wednesday, 14 June 2017

Five Things You Can Do With The Flashcards

Hi, everyone!

Flashcards take an important role in learning English, especially for young learners. Flashcards can help the children to understand better towards the topic given. Flashcards always bring fun activities. It depends on how we deliver it, though. It takes some time to think about the ways.

Preparation
Prepare a set of flashcards with the same part of speech. For instance: flashcards of stationery (Nouns), flashcards of Verbs, flashcards of clothes we wear, flashcards of famous landmarks in the world and so on. You can download this link to get a lot of flashcards that you need. 


Double-sided flashcard. Source: Pinterest

So, let’s start using the flashcards with the following ways:

1.     Vocabulary building
·    Introduce the flashcards to the children. Either you do Q/A about the pictures or simply show and tell about them. Use two-sided cards (as what you get from the link above). Side one is the picture and side two is the word. After showing each picture, make sure you also show the children the word. Repeat this activity twice.
·      It’s time for guessing game. Show the picture and ask, “What picture is this?” Give the clue if the children fail to recall it. For instance, “This picture begins with letter P.” Whether they can answer it or not, always show the name of the picture to them. Say the word and ask them to repeat after you. Hopefully they can recall it better.



2.    Spelling bee
·      Show a picture to the children. Ask them to spell and read the word of the picture. You may go like this:
You    : What is this picture?
Child  : Pencil case.
You    : Good. Please spell and read the word.
Child  : P-E-N-C-I-L—C-A-S-E … pencil case.
You    : Excellent!

Note: for most of Indonesian young learners, they get mixed up spelling the letters:  “a”, “e”, and “i”. Sometimes they also forget the “r” which is almost sounded like “a” in Indonesian language. Drilling those 3 vowels frequently is really necessary.

3.     Q/A
·        You can discuss and give questions to the children about the pictures on the flashcards. You can give the knowledge about the history of the chocolate, for instance, if you happen to show the picture of chocolate. Just give a short information. You can also ask the function something.
     
      You may go like this:

You    : What is this picture?
Child  : Lion.
You    : What does the lion eat?
Child  : Chicken.
You    : Ok. The lion eats meat. Chicken is also the meat. Zebra is   also    the meat. (giving knowledge)
Child  : Rabbit, too?
You     : Yes, rabbit is also the meat.
Child  : Poor rabbit.
***********************************************
You    : What is this picture?
Child  : Crayon.
You    : Correct. What is the crayon for?
Child  : For drawing.
You    : Alright. Crayon is for colouring, too.



4.    Writing sentences
·     Show the picture to the children. Ask them to write sentences about it. You may give a different picture to each child. On the other hand, you may also give the same picture for them. Make sure that they create their own sentences without doing copycat.
·      Tell them to write at least 5 words on the sentence. Make sure that you had guided them how to arrange the sentence properly before. However, for a zero based English learner, he/she may go with a very simple sentence as a start, such as: “I have apples.” Just make sure that he/she DOESN’T WRITE: “I have an apples.” or “I have a apple.”
·       Always encourage and motivate the children to write. They must give a try in writing.
·     Sense their writing ability. If they tend to be clueless, then it is you who gives the sentence example first.

     So you may go like this:

You     : What is this picture?
Child  : Cat.
You    : Watch me. I’m making a sentence by using the word “cat”.  “I SEE A CAT ON THE TREE.” (write it on the board)
            How many words on my sentence? Let’s count together. One-two-three-four-five-six-seven. There are seven words. Now I’m showing you a card. And I want you to make a sentence about it. Give me at least five words. Do you understand?
Child  : Yes.
You    : Good. So, this is a picture of … (show a picture)
Child  : Zebra.
You    : Wonderful! Now you make a sentence by using the word “zebra”.
Child  : I SEE A ZEBRA ON THE TREE. (writing on the board)
You    : A good sentence. Well done. (grin)
***********************************************
If that happens, quickly give correction on how to make a sentence properly. Although the sentence is grammatically correct and has correct spelling, please explain to the child that we normally don’t see a zebra on the tree. A zebra lives freely in the savannah and it doesn’t climb a tree. Then, show the child a better sentence, for example:
“A ZEBRA IS STANDING UNDER THE TREE.” J

5.     Making Chained-Sentences
·       Show a flashcard picture. Tell the children how to play the game. You can also join the game. The more, the merrier, right? It is a chained-sentence game. You have to do it verbally with the children. This is the game rule:

-         Child 1: Start a sentence with the name of the picture given.
-     Child 2:  Continue making a free sentence with the last word of the previous sentence as the first word. Insert the sentence with the word of next flashcard given.
-         Child 3:  Do the same thing as above.
-         You: Show the flashcards and join the game

Here is an example activity to help you:.

You                   : (show the first flashcard of “glasses”) Make a sentence with this        picture!
             Child 1              : My mum wears glasses everyday.
You                   : Good job! (show the second flashcard of “pencil” to the next child)     Continue the sentence. Start with the last word before and insert    this new word.
Child 2             : Everyday I bring a pencil to school.
You                : Awesome! (show the third flashcard of “book” to the next child) Ok, continue, please.
Child 3           : School has so many books to read.
You                : Wonderful! Ok, this is my turn. (show the next flashcard of “train”) Read a book on the train,” said my mum.

And so on and go on. You find it interesting, right?

Remember to deliver the activities above in a fun way. I hope that your children enjoy learning by using flashcards. Keep learning, keep teaching and keep sharing. 


Eureka,

Miss Frida


Flashcards reference: learnenglishkids.britishcouncil.org 

Sunday, 4 June 2017

Welcome!





Assalamualaikum!

Hi, everyone.
Welcome to my blog: letsmeetmissfrida.com.

I hope that I can share more knowledge about learning and teaching English with you.
And I would like to learn from you, too.

We will have a lot of fun!

Thanks for visiting my blog.

Wassalam,

Miss Frida