Monday, 17 July 2017

Ajari Aku Membaca Ya, Ma!




Siang masih terik ketika Nissan Xtrail hitam itu memutuskan berbelok ke sebuah mal. Setelah mendapatkan lahan parkir dengan mudah, satu persatu penumpangnya keluar. Sebuah keluarga kecil dengan ayah ibu dan ketiga anak mereka. Anak pertama seorang perempuan mengenakan seragam SMP. Anak kedua seorang bocah lelaki berusia sekitar 12 tahun. Terakhir si bungsu perempuan berusia sekitar 9 tahun.

Beriringan mereka menuju sebuah restoran siap saji dan bersenang-senang di sana. Hingga tiba-tiba ...

"Ma, habis ini aku mau beli buku!" seru Si Bungsu.

"Aku juga, Ma. Aku juga mau buku. Kan Senin besok udah mulai sekolah?" sambut Si Tengah.

Mama mereka hanya mengangguk lalu melanjutkan makan.

"Kamu juga perlu buku?" sang ayah menawari Si Sulung. "Senin besok kamu juga sudah mulai sekolah, 'kan? Hari ini tadi kan cuma masa orientasi," imbuhnya.

Yang ditawari hanya menggeleng tanpa minat. Kedua tangannya masih sibuk menjejalkan setumpuk mie goreng ke mulutnya. Porsi kedua. Sang ayah masih menunggu jawabannya.

"Enggak perlu, Pa. Bukuku udah banyak. Buku pelajaran juga semua dari sekolah," jawab Si Sulung setelah berhasil mengosongkan mulutnya sekaligus mengosongkan piring di hadapannya.

"Ok, kita ke toko buku sekarang."

****

Si Bungsu masih membuka-buka buku tebal di pangkuannya, sebuah kumpulan kisah dongeng tentang para princess. Beberapa tokoh dongeng itu dikenalnya lewat film animasi namun ia tak pernah tahu kisah dongeng itu versi buku.

Sepertinya buku ini seru kalau Mama mau menemaniku membacanya, gumamnya dalam hati. Ia segera bangkit dari ubin dan ternyata ...

"Oh, kamu di sini rupanya. Ayo, Papa sudah menunggu di kasir," tegur Mama.

"Mama, aku mau ... "

"Taruh buku tebal itu kembali ke raknya. Ayo, cepat,"

"Tapi, Ma ... " Si Bungsu tiba-tiba kehilangan senyumnya.

"Apa lagi?" suara Mama mulai tak sabar. Diraihnya buku tebal itu dan secepat kilat mencari label harga. Kepalanya menggeleng pelan melihat deretan lima digit yang tertera di balik buku itu. Sambil mengernyit ia berseru dalam hati, ini sih seharga perawatan facial-ku di salon langganan. Cicilan ponsel kerenku juga kurang segini. Ah, tidak ...

"Kamu sudah nonton film princess ini, 'kan?" tanyanya kemudian sambil menunjuk salah satu tokoh princess. Perasaannya sudah tak sabar.

"Iya, sih. Tapi aku mau baca buku ini sama Mama. Temani aku baca ya, Ma. Biar aku suka baca. Lagian aku belum tahu kisah princess yang itu," tunjuk Si Bungsu.

"Udahlah, Mama enggak ada waktu temani kamu baca. Kamu juga paling baca sebentar lalu bukunya ditinggal sembarangan. Kamu pikir ini harganya murah? Udah, yang princess itu entar beli aja dvd-nya. Kamu tinggal nonton. Sama aja kok ceritanya," titah Mama ketus. Lalu ia meletakkan kembali buku itu ke raknya.

Si Bungsu langsung cemberut.

"Kamu cuma boleh beli buku yang di rak depan itu. Sana pergi, pilih buku yang paling lucu yang kamu suka," perintah Mama berikutnya.

Si Bungsu berjalan dengan lesu menuju rak buku di dekat pintu masuk. Kesedihannya berangsur pudar ketika dia melihat buku-buku dengan cover princess idolanya. Segera dimasukkannya buku-buku itu ke dalam shopping bag hitam.

****

Kakiku sudah mulai terasa pegal. Ya ampun, muter-muter di toko buku selama sejam aja udah berasa banget pegalnya. Aku meregangkan badan sebentar. Sebenarnya berasa pegal karena sambil ngawasin balita, sih. Duh, Danisha kalau sudah asyik lari-lari di toko buku kan lumayan juga ngejarnya.

Aku memeriksa kembali beberapa buku di tanganku. Sedari tadi aku tak menemukan shopping bag di sekitar rak buku manapun. Kalaupun shopping bag dibatasi untuk dipajang, setidaknya pramuniaganya sigap menghampiri customer yang sudah kerepotan menenteng buku-buku lalu menawarkan shopping bag lah. Di cabang lain pramuniaganya seperti itu kok.

"Mom, can I buy this?" tanya Salsa yang masih asyik duduk di ubin sambil menunjukkan sebuah buku kepadaku.

"What is that?" aku balik bertanya. Ini ciri khas penduduk Venus yang kalau ditanya malah tanya balik. Well, that's me. Sometimes.

"It's a comic."

"Whoa. Seriously? Do you still want to read comics? I thought you like novels better."

"But I want this comic. It's cool. Seru deh, Bunda. Ini tentang psikologi."

"Emang kamu udah baca review-nya? Kok tahu kalau seru?"

"Lah, dari tadi kan aku baca. Nih, yang udah terbuka segelnya."

"Ok. Of course, you can buy it. Please, get a shopping bag."

****

Setelah mendapatkan Ziggy, aku segera menuju ke kasir. Entahlah, setiap kali berhasil ke toko buku, aku merasa wajib membawa pulang salah satu novel Ziggy. Kali ini aku memperoleh Jakarta Sebelum Pagi, bukan novel terbarunya sih tapi kan aku belum punya sebelumnya.

"Belle, please keep an eye on your sister."

Salsa mengangguk, "Ok, Mom."

Di hadapanku, beberapa orang berdiri mengular di depan meja kasir. Kuperhatikan mereka sekilas. Sepasang suami-istri dengan postur tubuh yang cukup tinggi dengan perawakan sedang (tidak gemuk dan tidak kurus) berdiri tepat di depanku. Sang suami merangkul istrinya yang tengah asyik dengan gadgetnya. Di barisan paling depan ada dua anak, laki-laki dan perempuan, masing-masing menenteng shopping bag hitam dan melongok-longok ke meja kasir dengan tak sabar.

Anak laki-laki itu berbadan tinggi dan besar yang mungkin berumur 12 tahun. Ia tampak lebih besar dibanding anak-anak seusianya. Wajahnya masih lugu tapi agak kesal. Ia menghampiri dan berbicara dengan seorang anak perempuan berseragam SMP. Tapi yang diajak bicara malah asyik mengamati pajangan assesoris di sisi kanan meja kasir. Postur tubuhnya lebih besar dibanding anak laki-laki itu. Dan anak SMP itu tidak menenteng tas apapun.

Anak perempuan satunya lagi, paling kecil di antara ketiganya, masih menenteng shopping bag dan berjinjit-jinjit di meja kasir lalu berseru-seru kepada sepasang suami-istri di depanku. Anak perempuan itu pun memiliki postur tubuh yang tak jauh berbeda dibanding kedua kakaknya. Gemuk dan besar.

Aku yang masih asyik menikmati pemandangan keluarga "besar" di depan mata ini tiba-tiba tersentak. Kedua anak ini membaca buku? batinku. Rasanya sulit dipercaya. Meskipun aku berusaha membuang jauh-jauh prasangka tentang anak-anak ini, mau tak mau nalar dan naluriku tergelitik untuk menganalisis "fenomena" ini.

Beberapa jenis karakter anak yang kutemui sepanjang perjalananku mengajar selama ini? Mungkin rasanya tak terhitung. Saking seringnya bercengkrama dengan anak-anak, aku bisa mengenali karakter dan hobi anak dari penampilannya termasuk postur tubuhnya. Murid-muridku yang suka membaca adalah anak-anak lincah dengan TB dan BB seimbang. Ada juga sih yang gendut chubby tapi dia lincah dan cepat fasih membaca. Gendut lincah lho, ya. Bukan gendut mager.

Tapi sekali lagi penilaian dari segi fisik ini memang tak serta merta akurat. Sebenarnya sorot mata juga berperan. Sorot mata yang tajam dan percaya diri adalah ciri khas anak yang suka membaca. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku dengan murid-murid. Ada seorang murid yang berbadan kurus dan sinar mata yang lemah dan ternyata ia mengalami kesulitan fokus membaca lantaran kecanduan main games.

Kembali aku menatap kedua anak berbadan besar dengan shopping bag hitam di masing-masing tangannya. Jangan berprasangka buruk, bisik malaikat di sisi kananku. Siapa tahu memang anak-anak itu punya hobi membaca sejak kecil? Siapa tahu juga kedua orang tuanya menerapkan tips di artikel Ayo, Tumbuhkan Minat Baca Pada Anak? (Meskipun kemungkinannya kecil, sih.) Tapi ya ... siapa tahu, 'kan?

Don't judge a book by its cover!

Meskipun postur tubuh mereka adalah tipikal anak-anak yang doyan makan enak, ngemil berat sambil main games atau nonton teve berjam-jam, betah sepanjang hari berada di kamar dengan gadget andalan di tangan, suka meminta ART-nya membawakan tas sekolah mereka yang super berat, mager alias males gerak boro-boro olahraga. Meskipun-meskipun-meskipun ... tapi yaa siapa tahu 'kan kalau mereka kutu buku sampai nenteng tas masing-masing begitu? Jadi masing-masing anak punya koleksi buku masing-masing yang tak bisa diganggu-gugat.

Tanpa sadar aku menggelengkan kepala. Ckckck ... Hebat sekali orang tua mereka sampai bisa membuat anak-anaknya punya reading habit seperti itu.

Sejurus kemudian seorang kasir menuang isi tas kedua anak itu ke meja kasir.

BRUK!!!

Terlihat olehku ada empat pack ...
>
>
>
>
>
>
>

BUKU TULIS!


Tuh, 'kan?!


Eureka,


Miss Frida






   











    
    

8 comments:

  1. Endingnya itu loh mbak, sesuatu banget. Anyway, saya waktu seusia anak mbak saya hobinya baca novel teenlit. Tidak terlalu berat, tapi seru. Kalau jaman SD, senengnya baca majalah Bobo. Si adik kecil mungkin bisa tuh dibeliin majalah ini. Ada juga majalah princes gitu.

    ReplyDelete
  2. Hehehe ... Iya, Dama.
    Kirain mereka memang doyan baca buku eh tahunya cuma beli buku tulis.

    Wah, suka baca buku juga, ya?
    Salsa dari kecil suka KKPK hingga Fantasteen. Lalu biografi tentang K-Popers idolanya. Terakhir beli Diary of Whimpy Kid itu sebelum beli komik di atas.

    Oh, Danisha sih cinta mati sama Elsa & Anna Frozen. Belilah akhirnya majalah Disney itu. Kakaknya waktu udah hapal semua Disney's princesses sih. Hihihi ...

    ReplyDelete
  3. Ternyata buku tulis semua, ya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa ...
      Duh, bikin patah hati deh. Kirain ...

      Delete
  4. Keponakanku ngoleksi KKPK juga mba :D
    Setiap bulan mereka ke toko buku, masing-masing anak dapat budget +/-50rb buat beli buku kesukaan mereka, hasilnya... Lemarinya malah penuh. Hihi

    Aku sudah bertekad juga mba buat anakku yang masib batita supaya rajin membaca pas sudah besar :D
    Thanks ceritanya ya miss, jadi kebayang beneran saking detilnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salsa sih udah lewat masa2 berburu novel KKPK. Udah gede sih. Sukanya sekarang ya cerita tentang psikologi gitu plus anything about K-Pop, especially EXO! Hahaha ...

      Bagus tuh, mbak. Menumbuhkan minat baca sejak dini. Memang kita yg harus rajin bacain buku ke anak ya, ketika mereka masih kecil.
      Makasih kunjungnnya, ya.

      Delete
  5. Wkwkwk.....zonk ya mbak ternyata hehehe. Jaman kecil dulu sama ortu dilangananin majalah Bobo sama Mentari. Duh dulu sampe berebut kalo dateng, bukan apa, tapi rebutan bonusnya wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, mama bear cantik main ke sini. Kangen! Muach!

      Wah, Bobo sih selalu jadi mayoritas majalah langganan anak2 sejak dulu ya.
      Aku dulu juga saking senangnya baca Bobo sampe dibeliin Bapak yg edisi majalah bekas jadul setumpuk! Seneng banget!

      Tapi rebutan bonus majalah memang seru sih ya. Hahaha ...

      Delete