Sunday, 20 August 2017

Happiness Lies In You

Jumat, 18 Agustus 2017

Di suatu sore yang menyenja ...

"Okay, magic words to say?"

"Thank you, Miss Frida!"

"You're welcome." 

Anak-anak kelas 2 dan 3 SD itu berebut menyalami dan mencium tanganku. Beberapa di antaranya lari melesat menghampiri orang tua masing-masing yang menjemput mereka. Beberapa juga masih sempat berteriak, "See you tomorrow, Miss Frida!" dengan penuh semangat.



Aku membalas sapaan pamit mereka dengan tetap mengulas senyum terbaikku. Ah, anak-anak itu sudah beribu-ribu kali menghiasi soreku dengan canda-tawa dan bermacam keceriaan sekaligus kegaduhan mereka. Yet, I enjoy it a lot! Perlahan namun pasti, mereka telah menjadi bagian kisahku.

Aku menata meja dan kursi yang lumayan berantakan sepeninggal mereka. Ketika aku baru selangkah menyapu lantai kelas ...

"Miss, aku belum dijemput," suara Rama mengagetkanku.

"Tunggu aja di teras, ya," sahutku lalu melanjutkan menyapu lantai hingga tuntas.

Tak lama, kulihat Rama menghambur keluar pagar menuju halaman depan. Dan sedetik kemudian kudengar teriakannya. Rama kembali masuk pagar dan berteriak-berteriak yang aku tak jelas mendengarnya sehingga dia mendekat.

"Miss Frida, ada pelangi! Miss, ada pelangi, Miss!"

"What?? Rainbow??" tanyaku.

"Iya, Miss. Rainbow. Pelangi di situ, Miss."

"Masa ada pelangi? Kan nggak habis hujan?"

Karena aku tahu anak-anak tak pernah berbohong (seaneh dan seabsurd apapun celoteh mereka), bergegas aku keluar mengikuti Rama sambil menggendong Danisha. Dan tepat di tepi jalan raya, kami memandang ...



P E L A N G I!!!

Semburat spektrum warnanya yang samar namun cukup jelas dilihat mata telanjang. Indah. What a surprise! It's the rainbow without the rain. Danisha pun terkagum-kagum melihat pelangi untuk pertama kalinya.

"Miss ngapain, Miss? Mau difoto ya, Miss?" tanya Rama

I was smiling at his curiosity.

"Coba aja sih. Moga-moga masih terlihat di foto," timpalku.

Pelangi semakin memudar di langit lazuardi.

"Yuk, masuk. Kita tunggu ayahmu di teras aja," ajakku. Kutengok WA chat dengan ibunya Rama belum terbaca.

"Aduh, ini udah mau malam nih. Kok aku belum dijemput sih?" Rama mulai panik.

Aku tahu, anak ini ingin segera pulang.

"Ayo naik. Miss Frida antar kamu pulang," titahku akhirnya mengeluarkan motor dari garasi setelah menyerahkan Danisha ke ayahnya.

Sambil jingkrak-jingkrak kegirangan Rama berseru, "Lho, Miss Frida antar aku pulang? Memangnya Miss tahu rumahku?"

"Ya, tahu lah. Dekat toko Aice, 'kan?"

"Iya. Wah, Miss Frida antarin aku pulang nih?"

He sounded either excited or thrilled. Gosh, this boy's so amusing. :-D

"Iya. Buruan naik. Udah mau maghrib nih."

Dan sepanjang jalan, anak ini berkata," Wah, aku diantar Miss Frida. Miss Frida antar aku pulang." berulang-ulang.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehnya. Diantar pulang naik motor saja Rama girang bukan kepalang. Gimana kalau diantar naik helikopter, coba? Hahaha ... Membuatnya gembira karena diantar pulang ternyata mengirimkan kebahagiaan bagiku. Bahagia itu memang sangat sederhana.

Setelah belok sekali ke sebuah gang kecil ...

"Itu toko Aice, 'kan? tunjukku ke depan.

"Iya, Miss. Rumahku di sampingnya persis, Miss."

Rumah besar di samping toko Aice berpagar cukup tinggi dengan halaman yang lumayan lapang dengan beberapa tanaman hijau di sekelilingnya. Sebuah mobil van terparkir di garasi depan. Pintu pagarnya terbuka separuh.

"Turun sini, ya. Di rumah ada orang, 'kan?"

"Iya. Ada, Miss."

"Oke, Miss Frida langsung pulang, ya. Udah maghrib nih."

"Iya, Miss. Makasih."

"Sama-sama."

Kupacu motorku ulang. Masih terlintas gegap girangnya Rama karena kuantar pulang.

He made my day. I was so thankful for that one fine afternoon since it gave me a wonderful happiness. Happiness lies on simple things. Happiness lies in you.

Keep teaching, keep learning, keep sharing.


Eureka,

Miss Frida




  

15 comments:

  1. dunia nak kadang menyenangkan ya, bikin bahagia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin bahagia dan bikin kesel sekaligus sih, mbak Tira.
      Hahaha ...

      Delete
  2. Anak kadang kasih kita pelajaran dengan Cara tidak terduga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Teh Okti.
      Kali ini pelajaran bersyukur yg aku terima.

      Delete
  3. akupun selalu norak setiap melihat pelangi, kebiasaan masa kecil yang masih bertahan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ...
      Masa sih, Mbak Nunu?
      Tapi pelangi memang kece sih. Kayak liat mimpi.

      Delete
  4. Anak-anak ya... selalu bisa membahagiakan orang dewasa dengan caranya masing-masing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mita.
      Hidup dibawa enjoy aja kalo di dekat anak2 mah.

      Delete
  5. Jadi inget dulu di rmh ramr dgn suara anak2 belajar....ya dulu bangrt saat anakku baru 4 apa 3 ya.. Di rmh buka pelangi english club... Menyenangkan :)

    ReplyDelete
  6. Aku pun suka liat pelangi mbak.. Tapi bener, kebahagiaan itu sumbernya dari diri kita sendiri. Bahkan dari hal-hal terkecil sekalipun, bisa bikin bahagia... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelangi memang punya aura yang magis untuk selalu dipandang, ya.

      Yes!
      Penting banget tuh mensyukuri dan bahagia terhadap hal-hal kecil. Biar ga stres. Hahaha ...

      Delete
  7. Frida
    Look at this blog.
    You haven't done blogging for so long.
    Don't you know that I miss your writing?

    Please start blogging.
    You know that it's aching your soul without writing.

    Love
    Yourself

    ReplyDelete