Thursday, 8 February 2018

Have You Ever Been Abroad?



"Have you ever been abroad?"

Kalimat tanya dari dosennya tadi siang masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan dia pun sekarang tersenyum-senyum sendiri mengingat peristiwa tersebut di mata kuliah Cross Cultural Understanding.

Solo presentation-nya berjalan lancar dan sukses!
Semua materi terkait telah dia persiapkan dengan matang beberapa hari sebelumnya. Gaya bicara dan bahasa tubuhnya menyatakan kepahamannya atas materi yang dia bawakan dan juga sekaligus rasa percaya dirinya yang bersinar terang ketika berdiri di atas podium. Saking lancarnya bahkan dosennya pun mengira dia sudah pernah travel ke luar negeri sebelumnya.

"Kamu pinter ngomong Bahasa Inggris. Kalau kamu bisa Bahasa Mandarin pasti akan lebih bagus lagi," pujian dan motivasi dari Bapaknya berkelebat di lintasan memorinya. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Bapak sudah memberikan pengakuan atas kepiawaiannya menguasai bahasa asing nomor satu di dunia itu. Pelajaran bahasa asing tambahan yang dia peroleh di masa SMA adalah Bahasa Jerman. Sayangnya bukan Bahasa Mandarin seperti harapan Bapak. Toh dia pun menyukai belajar Bahasa Jerman. Kemiripan beberapa kosa katanya dengan Bahasa Inggris membuatnya antusias mempelajari Bahasa Jerman hingga memperoleh nilai-nilai yang memukau.

Ketertarikannya pada Bahasa Inggris bermula saat dia berusia sekitar 9 tahun. Kala itu dia mendengar satu lagu OST dari salah satu film Indonesia. Lagu itu mengalun indah menelusuri indera pendengaran dan sanubarinya. Rasanya seperti ... entahlah. Nyaman membuai menggiringnya ke alam fantasi tak terperi. Sulit diungkapkan lewat kata-kata.

Dan lagu itu berbahasa Inggris meskipun akhirnya ada versi Bahasa Indonesianya juga yang disuarakan oleh Johan Untung. (((Johan Untung))) *betapa jadulnya* Rasa tertarik yang berujung penasaran itu menggiringnya pada tekad:


"Suatu saat aku akan mempelajari Bahasa Inggris ini hingga mahir."

Sebuah tekad dari seorang anak kecil yang masih bau kencur. Namun siapa sangka jika tekad bau kencur itu menemui jalannya. Takdirnya mengantarkan kepada banyak peluang terbuka untuk mempelajari Bahasa Inggris lebih mendalam.

Adalah Ibu Endang yang menjadi guru Bahasa Inggris pertamanya di masa SMP. Apapun yang Ibu Endang sampaikan tentang Bahasa Inggris selama jam pelajaran bagaikan simfoni merdu yang mengalir di segenap panca inderanya. Semua materi pelajaran --yang jadi momok bagi sebagian besar para murid kala itu-- terserap tanpa sisa. Semua materi pelajaran mengikat kuat di luar kepala.
Tak ada hambatan yang berarti selain julukan dari teman-temannya yang menganggap Ibu Endang adalah guru yang killer. Galak!
Di tahun berikutnya, Pak Phil menggawangi kelas Bahasa Inggris dengan lebih sabar dan ramah. Siapapun gurunya baginya sama saja. Dia sudah jatuh cinta dengan Bahasa Inggris. Jadi, ya ... tetap enjoy saja tanpa masalah.

Hingga akhirnya deretan guru-guru Bahasa Inggrisnya di masa SMA ikut menggores kenangan manis baginya akan menariknya belajar Bahasa Inggris. Mulai dari Bu Hari yang pemalu dan Bu Sisca yang tegas dan galak memberinya kontribusi yang tak sedikit tentang seluk-beluk Bahasa Inggris.

Entahlah. Apapun tentang bahasa asing yang satu ini tak akan luput dari pengamatannya. Dan dia tak hanya mendalami Bahasa Inggris secara tulisan namun juga secara lisan. Kemampuan Speaking dan Reading-nya menguat dan mulai mendapat pengakuan dari teman-teman sekelas. Tak pelak lagi, keberadaan Bahasa Inggris mulai disandingkan dengan namanya. Hingga akhirnya dia ditahbiskan menjadi kamus berjalan bagi teman-teman dekatnya.
Sungguh menyenangkan!


 

1 comment:

  1. At the point when's the last time you took an excursion? Rent a car in Islamabad At the point when did you keep going go on a shopping binge, visit another exhibition hall, experiment with another dish, or watch unrecorded music among local people? It's an ideal opportunity to prepare for an excursion, in the event that you can't recall.

    ReplyDelete